[Movie] The Secret Life of Pets (2016)


The Secret Life of Pets
(2016 - Universal/Illumination)

Directed by Chris Renaud, Yarroew Cheney
Written by Cinco Paul, Ken Daurio, Brian Lynch
Produced by Chris Meledandri, Janet Healy
Cast: Louis C.K., Eric Stonestreet, Kevin Hart, Jenny Slate, Ellie Kemper, Lake Bell, Albert Brooks, Dana Carvey, Steve Coogan


Jadi tahun ini film animasi Hollywood trennya adalah talking animals. Setelah Zootopia dan Finding Dory dari Disney, kini giliran Universal Pictures bareng Illumination Entertainment mencoba materi cerita baru di luar franchise Despicable Me yang jadi pohon duit mereka. The Secret Life of Pets promonya udah lumayan kenceng sejak lama, nawarin konsep "bagaimana kelakuan hewan piaraan saat majikannya nggak di rumah", plus bentuk-bentuk kiyut dari tokoh-tokohnya. Pokoknya, meski merupakan original material, Pets ini menurut gw cukup punya daya tarik tinggi bagi yang cari tontonan menghibur seluruh keluarga. Sekarang, tinggal dibuktikan hasilnya gimana.

Max (diisi suara Louis C.K.) yang seekor anjing merasa hubungannya dengan pemiliknya, Katie (Ellie Kemper) adalah 'istimewa', kasih sayang yang saling berbalas bukan seperti majikan dan hewan piaraan biasa. Tetapi, perasaan itu berubah ketika Katie memungut dan membawa pulang seekor anjing kampung bongsor, Duke (Eric Stonestreet). Timbullah persaingan di antara keduanya untuk jadi kesayangan Katie. Suatu hari setelah Katie berangkat kerja, persaingan Max dan Duke semakin menjadi-jadi, bahkan membuat mereka sampai tersesat di belantara kota New York dan mengalami berbagai peristiwa. Teman-teman Max sesama hewan piaraan pun khawatir dan segera mencari mereka, sebelum pemilik masing-masing kembali pulang di sore hari.

Menurut gw, Pets itu memenuhi "janji" yang ditawarkan dalam promo-promonya. Warna-warni ceria gambar serta amount of cuteness dari para hewan yang tampil berpadu demi menghibur penonton. Ceritanya juga nggak ribet-ribset amat, pokoknya tontonan harmless-lah. Well, memang dari segi ceritanya nggak terlalu stand-out juga. Nggak masalah sih bahwa premisnya agak mirip Toy Story, ditambah unsur-unsur "action" yang sepertinya merujuk pada kartun-kartun klasik ala Tom & Jerry, tetapi ya sepertinya film ini hanya berhenti di situ saja. Film ini ini nggak sampai ke penulisan ataupun penuturan yang benar-benar fresh--bahwa ironi karakter yang sifatnya jahat itu seekor kelinci kecil lucu juga kayaknya udah nggak terlalu mempan ke gw. Dan kalaupun nggak terlalu baru pola ceritanya, harusnya minimal dari cerita yang ada 'kan bisa digali kedalamannya, tetapi ternyata nggak juga, ya udahlah. Ya itu tadi, pada akhirnya film ini "sekadar" sukses memenuhi syarat sebuah film yang  haha-hihi.

Tetapi, bukan berarti gw nggak benar-benar bisa menarik sisi positif dari film ini. I have to say, gw cukup suka sama bagaimana setiap tokoh hewannya ditampilkan dengan sifat-sifat khas dan gags masing-masing--favorit gw adalah si anjing sosis, anjing kursi roda, sama Chloe si kucing. Film ini juga kembali menunjukkan kualitas animasi dari studio bermarkas di Prancis, Illumination Entertainment yang clean dan desain-desainnya juga menarik, plus musiknya juga asyik. Gw cukup menikmati, ada perasaan cukup senang setelah menonton, bisa senyum-senyum dan ketawa-ketawa, ...yah kecuali setiap ada kemunculan ular dan reptilia ya *geli* =\.





My score: 7/10

My Top 10 Japanese Drama Series (So Far)

Jika ada satu hal paling positif yang gw dapat dari menonton that poor-concepted Indonesian romance film Winter in Tokyo beberapa pekan silam, adalah membangkitkan memori gw tentang drama seri atau sinetron Jepang, atau sering disebut dorama--ejaan di Jepang-nya. Sebagai anak yang keranjingan TV sejak pitik di era 1990-an, gw tentu nggak asing dengan dorama. Paling awal bersentuhan dengan dorama tentu saja dengan Oshin di TVRI dan sebuah dorama dari era 1980-an tentang sekolah pramugari Japan Airlines di RCTI--setelah nge-Google sepertinya judulnya Stewardess Story (Stewardess Monogatari). Tapi, saat itu gw belum mengerti betul bahwa itu sinetron asal Jepang. Pas udah agak gedean dan rada melek media, hadirlah saluran Indosiar yang menayangkan berbagai judul dorama, yang gw cukup ikutin karena tayangnya setelah jam anime di sore hari. Ya, sebelum booming sinetron Taiwan dan K-Drama di era 2000-an, dorama Jepang sudah menginfiltrasi pemirsa Indonesia sejak lama--mungkin barengan sama telenovela Amerika Latin. Silahkan bilang gw tua, tapi dengan pengetahuan nggak penting ini, gw bangga. Apelu apelu...

Sajian dorama Jepang di TV kita agak come and go, malah kayaknya setelah drama Asia banyak dijiplak sinetron Indonesia *uhuk* antara 2000-2005, dorama Jepang seolah raib. Itu bersamaan dengan gw mulai kuliah sastra Jepang, ketika gw justru butuh lebih banyak referensi dan dorama termasuk di dalamnya--selain karaoke lagu Jepang buat hafalin huruf kanji, it works guys. Jadi yah sebagaimana konsumen entertainment Indonesia yang selalu saja tidak mendapat apa yang mereka mau dari jalur resmi, gw mulai mengulik banyak dorama dari lapak-lapak, dengan cakram-cakramnya yang rapuh berbau minyak kayu putih itu, lalu juga temukan ketersediaan yang cukup melimpah di internet--sisi positifnya, karena nggak di-dubbing seperti di TV kita, gw bisa lebih sering dengar bahasa Jepang yang diucapkan oleh native speaker, biar bisa membiasakan telinga sama bahasa itu *pembenaran =P*. Lumayan, sekitar 5-6 tahunan gw jadi agak addict sama dorama.

Dorama Jepang itu ternyata buanyak banget, karena sistem industrinya emang cukup beda dari Indonesia atau Hollywood. Dalam pertelevisian Jepang, satu season itu benar-benar satu musim artian sebenarnya, yaitu sekitar 3 bulan, masing-masing untuk musim semi, panas, gugur, dan dingin. Jadi jika ada acara atau dorama tayang seminggu sekali untuk satu musim, ya berarti episodenya maksimal cuma 12, dan umumnya satu judul dorama hanya dikasih jatah satu musim aja. Itulah sebabnya, dorama Jepang itu lebih mirip mini seri ketimbang serial, karena dalam 9, 10, atau 11 episode saja udah tamat. Kecuali dalam kasus khusus drama sejarah di televisi pemerintah NHK yang tayang sepanjang tahun (40-50 episode), atau dorama pendek (15 menit) buat ibu-ibu rumah tangga seperti Oshin yang tayang setiap hari selama enam bulan, dan beberapa pengecualian lainnya. Tapi umumnya, setiap musim berganti, line-up-nya pun ganti. Kalau memang ternyata dianggap sukses, tidak menutup kemungkinan dilanjutkan dengan season "sekuel"-nya, tapi itu tak selalu pasti dan bisa terjadi beberapa tahun kemudian. Lewat sistem ini pula, bukan hal yang mengherankan kalau aktor-aktor di sana sempat-sempatnya main di beberapa judul dorama dan film dalam satu tahun, karena waktunya memang memungkinkan.

Anyway, gw baru catch-up lagi dorama di tahun 2016 dengan adanya channel berlangganan WakuWaku Japan. Tapi, rasanya yang ditayangkan di sana--yang untungnya tidak di-dubbing =)--belum bisa memberi kesan yang cukup mendalam dibanding waktu gw dulu keranjingan dorama. Dengan segala motivasi itu, gw coba iseng membuat senarai 10 dorama terfavorit gw sejauh ini. Maunya bikin 'sepanjang masa' tapi itu bakalan nggak komprehensif, karena akan tergantung pada periode mana saja yang gw tonton, belum lagi ada void 4 tahunan belakangan gw sama sekali nggak ngikutin dorama. Tetapi, biarlah ini tercatat untuk saat ini, karena kalau nunggu lagi, gw akan keburu lupa, hehe.





HONOURABLE MENTIONS

Untuk alasan kenapa 10 judul ini yang gw pilih, bisa dilihat nanti. Tetapi, gw musti meng-shout-out kepada beberapa judul yang menurut gw nggak kalah berkesan. Dari yang ditayangkan di Indosiar era 1990-an-awal-2000-an seperti Just the Way We Are (Sunao no Mama de), Anything For You (Kimi no Tame ni Dekiru Koto), Ordinary People (Asunaro Hakusho), 101 Proposals (101-kaime no propoozu)Anchor Woman (News no Onna), atau Long Vacation, semua telah turut membangun fondasi ketertarikan gw baik terhadap dorama Jepang, lagu-lagu Jepang--perhatikan bahwa setiap dorama tadi punya theme song yang sangat memorabel, maupun pada Jepang itu sendiri.

Dalam perjalanannya gw juga pernah menikmati dorama tentang hubungan unik guru dan murid-muridnya di GTO: Great Teacher Onizuka, Gokusen, hingga My Boss My Hero. Atau yang berbentuk procedural/misteri/investigasi seperti Trick (tentang tipuan supranatural), Unfair (detektif memburu pembunuh berantai), dan Galileo (ahli fisika ngebantu polisi). Atau kehidupan perkantoran seperti Haken no Hinkaku (tentang pegawai kontrak) dan Hataraki-Man (tentang wartawan majalah), atau yang bertema medis yang cool seperti Code Blue (helikopter ambulans) hingga komedi rumah tangga At Home Dad (tentang suami yang jadi bapak rumah tangga full time).

Gw juga dengan berat hati meng-exclude judul-judul "maut" seperti 1 Litre of Tears (tentang gadis penderita ataxia), Hana Yori Dango (Boys Over Flowers alias Meteor Garden =D), dan Taiyou no Uta (tentang penyanyi nggak bisa keluar siang karena penyakit genetik). Strangely gw juga cukup banyak mengeliminasi deretan dorama yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan-nya Jepang, Takuya Kimura, seperti Good Luck (dia jadi pilot), Engine (jadi pembalap), atau CHANGE (jadi perdana menteri). Bukannya nggak bagus, cuma belum sampai ke posisi 10 besar menurut gw. Tempo hari gw sempat mengikuti dorama produksi 2016, Good Partner, tentang pengacara mantan suami-istri tapi masih satu kantor, tapi mungkin butuh waktu untuk masuk daftar "all time" gw.

Baiklah, cukup panjang lebarnya. Berikut 10 dorama terfavorit gw sepanjang masa sejauh ini.


My Top 10 Japanese Drama Series (So Far)

10. Attention Please/アテンションプリーズ (2006)

Salah satu ciri khas yang gw suka dalam dunia dorama Jepang adalah sering sekali mereka mengangkat sebuah profesi spesifik yang disampaikan dengan beberapa informasi pengetahuan yang tidak asal-asalan, tetapi juga bisa menghibur karena ditabrakkan pada karakter-karakter yang "filmable", kata lain untuk aneh, hehe. Attention Please yang kental unsur komedi kisahkan seorang cewek anak band urakan bernama Yoko Misaki (Aya Ueto) yang ingin membuktikan dia bisa jadi "wanita" dengan mendaftar jadi pramugari Japan Airlines. Ini mungkin bukan dorama terbaik soal profesi pramugari--yes, they are actually plenty of them, tetapi ini termasuk yang paling menghibur buat gw.

Starring: Aya Ueto, Ryo Nishikido, Miki Maya, Saki Aibu, Misa Uehara, Kotaro Koizumi, Fumiyo Kohinata
Directors: Yuichi Sato, Yasushi Ueda, Hidenori Joho, Manabu Kitagawa
Screenwriter: Noriko Goto, Yuko Nagata



9. Last Friends/ラスト・フレンズ (2008)

Ini mungkin sedepresif-depresifnya dorama Jepang yang pernah gw tonton. Kelihatan di permukaan sih kayak kisah cinta dan persahabatan anak-anak muda biasa. Ternyata di dalamnya mencakup cewek yang psychologically abused oleh cowoknya (belum suami lho ya) yang bermuka dua, cewek tomboy dengan masalah identitas gender karena naksir si cewek yang di-abused itu, cowok trauma persentuhan badan yang naksir si cewek tomboy tadi, pokoknya semua yang bound to be doomed gitu. Rather soapy, tetapi menarik juga bahwa tema-tema yang bleak itu bisa disajikan dalam deretan episode yang engaging dan bikin pengen mendukung karakternya. Apalagi diiringi theme song maut "Prisoner of Love"-nya Utada Hikaru, beeeeuuuuh.

Starring: Masami Nagasawa, Juri Ueno, Eita, Ryo Nishikido, Asami Mizukawa
Directors: Yusuke Kato, Mizuki Nishizaka, Mitsutaka Endo
Screenwriter: Taeko Asano



8. Orange Days/オレンジデイズ (2004)

Sebenarnya kisahnya agak biasa, percintaan anak-anak kuliahan, yang berarti fokus akan terbelah antara cinta dan menggapai cita-cita. Kisah utama dorama ini ada pada si cowok Kai (Satoshi Tsumabuki) yang bentar lagi lulus dengan Sae (Koh Shibasaki) si cewek yang tuli tapi belum give up untuk jadi musisi, ditambah kisah serupa dari karakter teman-teman di sekitar mereka berdua. Selain bisa terbuai pada love story yang manis dan pasang surutnya, lewat dorama ini kita juga bisa belajar bahasa isyarat Jepang =D.

Starring: Satoshi Tsumabuki, Koh Shibasaki, Hiroki Narimiya, Miho Shiraisi, Eita
Directors: Jiro Shono, Nobuhiro Doi, Natsuki Imai
Screenwriter: Eriko Kitagawa




7. Iryu -Team Medical Dragon-/医龍 (2006)

Dorama medis ini menyorot seorang dokter ahli bedah terbuang tapi jagoan, Ryutaro Asada (Kenji Sakaguchi) yang dimanfaatkan oleh seorang dokter ambisius (Akira Kato dimainkan Izumi Inamori) di rumah sakit universitas demi penelitian. Disajikan secara procedural (kasus per kasus), dorama ini juga menyentuh ranah politik manajemen rumah sakit dan intrik-intrik profesi dokter. Tapi, mungkin karena bersumber dari komik, dorama ini memasukkan berbagai gimmick yang absurd abis, seperti pembentukan tim dokter dengan karakter aneka ragam, dokter-dokter yang jalan-jalan di hall rumah sakit mengenakan jas putih dengan ekspresi fierce, si tokoh utama punya luka bakar bentuk naga di punggung dan sering latihan bedah dengan gerakan imaginary sambil topless, hingga penjelasan tentang berbagai teknik operasi lewat bagan animasi. Yoi, lebay sih dorama ini =D. Tapi justru itu yang bikin seru, seakan-akan segala belokan cerita itu masalah hidup-mati (padahal nggak selalu segitunya), meledak-ledak dramatis teatrikal gimana gitu. Bayangkan cerita superhero macam Kamen Rider tapi di rumah sakit, ya itulah Iryu. Publik Jepang juga kayaknya kepincut dengan dorama ini sampai-sampai udah dibuatkan 3 season lanjutannya di tahun 2007, 2010, dan 2014.

Starring: Kenji Sakaguchi, Izumi Inamori, Asami Mizukawa, Kazuki Kitamura, Teppei Koike, Mari Natsuki, Sadao Abe, Kuranosuke Sasaki
Directors: Satoshi Kubota, Naruhide Mizuta
Screenwriter: Hiroshi Ayashi, based on manga by Taro Nogizaka



6. Tokyo Love Story/東京ラブストーリー (1991)

Well, sebenarnya dorama ini masuk lebih pada nilai nostalgia, sebagaimana gw singgung di pendahuluan. Tapi, emang susah juga menghilangkan memori tentang Rika Akana (Honami Suzuki) si gadis ceria lovable tapi juga agresif dalam mengejar cinta rekan sekantornya, si awkward Kanji (Yuji Oda) yang ternyata masih ngharep sama Satomi (Narimi Arimori), si cewek baik-baik yang eh malah lebih kepincut sama si bad boy gondrong Kenichi (Yosuke Eguchi) yang juga sahabat lama Kanji. Nggak benar-benar ada protagonis-antagonis, tinggal yang nonton lebih prefer ngebela yang mana. It was sweet, and funny, and bikin gregetan, a true definition of 'drama' termasuk saat ditonton ulang. Legendary indeed.

Starring: Honami Suzuki, Yuji Oda, Narimi Arimori, Yosuke Eguchi, Akiho Sendo
Directors: Kozo Nagayama, Ohiko Honma
Screenwriter: Yuji Sakamoto, based on manga by Toru Ota



5. Nodame Cantabile/のだめカンタービレ (2007)

Berlatar sebuah akademi musik klasik, tentang si cewek super-aneh dan sangat, sangat kekanak-kanakan, Megumi "Nodame" Noda (Juri Ueno) dan romansa absurdnya dengan seniornya, Chiaki-sempai (Hiroshi Tamaki) yang terobsesi jadi konduktor orkestra terhebat. Dorama adaptasi manga ini sepertinya sangat mempertahankan kekomikalan komiknya, termasuk ke bentuk-bentuk karakternya--my God I still can't get over that Strezemann-sensei's (Naoto Takenaka) crazy fake foreign accent XD, jadinya terkesan cuma dorama lucu buat hore-hore aja. Tapi menurut gw ada nilai lebih di sini, bagaimana musik klasik yang selalu dianggap 'terlalu serius' bisa disajikan dengan konyol dan fun, tanpa--ini penting--menghilangkan apresiasi terhadap musik klasik dan orang-orang yang berkecimpung di sana. Adegan pertunjukkan musiknya keren-keren dan sangat enjoyable. Yang nonton pun jadi bisa punya tambahan pengetahuan tentang hal-hal tersebut, plus jadi lebih familiar sama banyak komposisi musik klasik. Gw tahu "Rhapsody in Blue" ya gara-gara dijadiin ending theme dari dorama ini, hehe.

Starring: Juri Ueno, Hiroshi Tamaki, Eita, Keisuke Koide, Asami Mizukawa, Saeko, Misa Uehara, Naoto Takenaka
Directors: Hideki Takeuchi, Yasuhiro Kawamura, Masaki Tanimura
Screenwriter: Rin Etou, based on manga by Tomoko Ninomiya



4. Atsuhime/篤姫 (2008)

Kalau dengar definisi bahwa NHK adalah saluran milik pemerintah Jepang, jangan bayangin kayak TVRI kita ya. NHK mungkin salah satu instansi penyiaran pemerintah paling maju dan well-funded di dunia, dan program-programnya punya standar kualitas tinggi. Salah satu proyek besar NHK setiap tahun adalah serial drama sejarah--disebut taiga dorama, yang ditayangkan setiap pekan sepanjang tahun, dengan tujuan ya belajar sejarah lewat dramatisasi seorang tokoh sejarah yang dimainkan aktor-aktris top. Nah, somehow satu-satunya taiga dorama yang gw khatam adalah Atsuhime, all 50 episodes. Dorama ini tuturkan riwayat Okatsu (nama kecil) alias Atsu (nama gadis) alias Tenshouin (nama pas jadi 'ibu suri' ke-shogun-an), wanita dari keluarga samurai level rendah yang kemudian melewati berbagai proses sampai jadi istri shogun Tokugawa ke-13, serta peranannya ketika Restorasi Meiji berlangsung dan mengguncang pemerintahan militeristik shogun. Berpola serupa dengan taiga dorama sebelum-sebelumnya, Atsuhime ini penuturannya sangat straightforward dalam fungsinya sebagai dramatisasi sejarah: ada naratornya, ada peta lokasinya, bahkan tiap ada tokoh baru akan dikasih keterangan namanya. Tetapi, karena dipresentasikan mengalir tanpa terkesan kaku lewat karakter-karakter yang membumi, pemain-pemain yang kece dan excellent, production value yang keren, musik yang indah, ditambah soroton tentang tata cara kehidupan, tata krama, bahasa, dan intrik-intrik pemerintahan masa itu, serta fakta bahwa sosok Atsu, dalam segala keterbatasannya sebagai seorang wanita di masyarakat feodal dan patriakal, sanggup berkontribusi signifikan terhadap perdamaian negaranya, membuat gw sangat menikmati dorama ini secara keseluruhan. 

Starring: Aoi Miyazaki, Eita, Masato Sakai, Hideki Takahashi, Yukiyoshi Ozawa, Shota Matsuda, Maki Horikita
Directors: Mineyo Sato, Ken Okada, Kentaro Horikirizono, Yoshio Watanabe, Tadashi Uesugi, Hirotaka Matsukawa
Screenwriter: Kumiko Tabucho, based on novel by Tomiko Miyao



3. Kekkon Dekinai Otoko (The Man Who Can't Get Married)/結婚できない男 (2006)

Dorama ini juga gw pilih di sini lebih karena alasan sentimental: ini bahan skripsi gw =D. Mengangkat sebuah fenomena sosial di Jepang bahwa usia orang yang menikah semakin tua, tapi ya namanya juga demi jadi tontonan dan komedi, hal itu di-twist jadi ekstrem. Shinsuke Kuwano (Hiroshi Abe) adalah arsitek sukses dan cerdas berusia 40 tahun, namun menikmati kesendiriannya karena nggak suka diganggu sama siapapun dalam hal apa pun, constantly cynical about people other than himself. Prinsipnya itu suatu kali harus dilanggar ketika kena sakit pencernaan dan harus 'menelanjangi' diri di hadapan seorang dokter wanita, Natsumi Hayasaka (Yui Natsukawa), yang juga masih single di usia matang dan berkarier bagus--bedanya dia sifatnya nggak menjengkelkan kayak Shinsuke. Kalau mau diambil gampangnya sih ini dorama tentang bagaimana dua orang ini nanti jadian. Tapi, nyatanya 12 episode yang ditampilkan selalu menarik, karena menabrakkan prinsip masing-masing karakternya lewat dialog-dialog dan argumen yang menurut gw hillarious. Selain Shinsuke dan Hayasaka-sensei, ada pula tokoh ibunya Shinsuke yang terus nyindir putranya untuk kawin, adik iparnya yang gemar selingkuh, wanita muda tetangganya yang selalu punya masalah pacar, hingga rekan-rekan kerja Shinsuke yang tentu saja lebih 'normal' sifat dan aspirasinya. Dipenuhi komentar epik tentang persepsi sosial, tapi disampaikan ringan, witty, dan sangat menghibur.

Starring: Hiroshi Abe, Yui Natsukawa, Ryoko Kuninaka, Takashi Tsukamoto, Reiko Takashima, SHEILA
Directors: Yoshishige Miyake, Takashi Komatsu, Hisashi Ueda
Screenwriter: Masaya Ozaki



2. Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio's Tomorrow)/あしたの、喜多善男 (2008)

Dorama ini seperti ada pada level berbeda dari yang lain. Sebuah black comedy berpremis tentang Yoshio Kita (Fumiyo Kohinata), pria paruh baya average-looking, tak punya teman, dan merasa selalu tertolak, memutuskan untuk bunuh diri 11 hari lagi. Tetapi, di hari pertama, ia bertemu dengan berbagai karakter, baik yang (mungkin) mau menolongnya, maupun justru (mungkin) memanfaatkannya. Setiap episode pun bergulir sekaligus menghitung mundur hari-hari Yoshio akan melaksanakan rencananya, dan semakin mengungkap tentang latar belakang dan motivasinya, upaya menyelesaikan apa yang belum selesai, sampai kebimbangan antara melancarkan niatnya atau tidak. Yang strikingly interesting buat gw di sini adalah gambaran betapa nggak judgmental-nya orang-orang sekitarnya sama keputusan bunuh diri. Well, mungkin melihat si Yoshio yang sosoknya murah senyum dan polos tapi menyimpan kepedihan sangat mendalam emang jadi nggak tega untuk nge-judge, but still, dorama ini bisa mengembangkan sebuah premis yang "sakit" tadi dengan brilian, tetapi juga nggak terasa diberat-beratin atau didepresif-depresif-in, sekalipun dimasukkan pula tema masalah tekanan kejiwaan, penipuan asuransi, hingga kehidupan fallen celebrity--ke mana para idol yang kawaii itu ketika udah nggak muda dan nggak terkenal lagi, naaah.... Masih bisa bikin ketawa (pahit), masih bisa menyentuh, apalagi cast-nya keren-keren, dan soundtrack-nya yang sangat kental orkestra jazz juga tepat dengan mood filmnya yang ambigu.

Starring: Fumiyo Kohinata, Ryuhei Matsuda, Manami Konishi, Chiaki Kuriyama, Yuriko Yoshitaka, Katsuhisa Namase, Jun Kaname
Directors: Ten Shimoyama, Manabu Sato, Yoshishige Miyake, Akira Hibino
Screenwriter: George Iida, based on novel by Masahiko Shimada





1. Beautiful Life/ビューティフルライフ (2000)

Dorama ini punya gabungan elemen-elemen yang biasa ditemui di dorama Jepang. Kisah cinta yang awal-sebel-jadi-demen, dunia profesi spesifik--si Shuji (Takuya Kimura) itu seorang hair-stylist, menyentuh disease-porn karena Kyoko (Takako Tokiwa) sang tokoh utama ceweknya sejak awal udah berkursi-roda, musik dan theme song oke, pemain-pemain kece, tokoh-tokoh sampingan ada yang loveable dan ada yang nyebelin (looking at ya, TM Revolution =p), pokoknya semua hal dalam formula yang tampaknya sangat cheesy. Tetapi, justru hasilnya jauh dari kesan itu. Nggak ada adegan yang lebay, semua mengalir natural, aktingnya asyik-asyik, dialognya keren tanpa berusaha serba dramatis, dan simpati gw ke tokoh-tokohnya juga nggak dipaksakan. Ada juga selipan isu tentang perlakuan terhadap penyandang cacat, dan yang menarik, cowok berprofesi hair-stylist di sana nggak identik dengan label 'banci salon'. Ada letupan-letupan yang asyik di setiap guliran episodenya, lucu dan haru, dan that silent but powerful finale bikin nyesek sekaligus menonjok emosi. Beautiful Life sendiri merupakan salah satu dorama tersukses di Jepang sepanjang masa, rating-nya sempat menyentuh 41% (!), so mungkin selera gw agak terlalu mainstream, hehe. Tapi cobalah ditonton lagi, karya-karya yang sekarang pada obral istilah 'baper' tuh nggak ada apa-apanya di hadapan dorama ini.

Starring: Takuya Kimura, Takako Tokiwa, Atsuro Watabe, Miki Mizuno, Hiroyuki Takeuchi, Takanori Nishikawa (T.M. Revolution)
Directors: Jiro Shono, Nobuhiro Doi
Screenwriter: Eriko Kitagawa



[Movie] Kingsglaive: Final Fantasy XV (2016)


Kingsglaive: Final Fantasy XV
(2016 - Square Enix/Odex/Sony Pictures)

Directed by Takeshi Nozue
Screenplay by Takashi Hasegawa
Story by Kazushige Nojima, Saori Itamuro
Produced by Hajime Tabata
Cast: Aaron Paul, Lena Headey, Sean Bean, Liam Mulvey, David Gant, Adrian Bouchet, Darin De Paul, Trevor Devall, Alexa Kahn, John DeMita


Obsesi gw terhadap video game terhenti pada Soul Edge dan The Sims, berbeda dengan teman-teman sebaya yang lebih adventurous dan banyak melahap game yang butuh waktu dan komitmen panjang, salah satunya seri role playing game (RPG) Final Fantasy *the other was Harvest Moon*. Gw tahu Final Fantasy itu terkenal tapi gw nggak benar-benar ngerti itu tentang apa dan kenapa serinya sampai banyak banget, nggak pernah main juga, dan butuh waktu untuk ngeh bahwa setiap jilid ternyata emang beda cerita dan karakter, cuma ada persamaan beberapa elemen, misalnya soal negeri antah berantah dan ada unsur magisnya. Final Fantasy juga ternyata tidak "berhenti" di game, karena juga menyangkut tentang teknologi digital dalam grafisnya yang sangat maju, sampai ke ke musiknya yang digarap serius, sampai-sampai menghasilkan soundtracks yang melibatkan musisi terkemuka--bahkan Addie MS pernah bikin konser tribute dengan orkestranya. Dan, bahwa game-nya sampai ke jilid ke-15, that's saying something. Jadi kalau ada yang tanya what's the big deal sama Final Fantasy, ya emang big deal di blantika game.

Lalu apakah gerangan Kingsglaive: Final Fantasy XV? Singkatnya, ini adalah pembuka dari game Final Fantasy XV yang akan rilis tahun ini. Namun, bukannya dimasukkan saja dalam pembukaan kepingan Blu-ray game-nya, Square Enix memutuskan untuk "meng-serius-i" bagian ini dengan membuat sebuah feature film animasi yang ditayangkan di bioskop. Film ini niatnya adalah memperkenalkan dunia yang jadi setting Final Fantasy XV dengan sebuah cerita latar belakang, yang nantinya berlanjut di game-nya dalam angle berbeda. Buat yang memang berniat memainkan game-nya, film ini tentu sangat rewarding. Tetapi bagaimana dengan gw yang mungkin berada di kelompok penonton yang lain?

Kingsglaive berkisah tentang sebuah kerajaan yang ditopang oleh kekuatan kristal magis, Lucis yang terus ditekan oleh negara imperialis berbasis teknologi, Niflheim. Raja Regis (diisi suara Sean Bean) kemudian membentuk sebuah pasukan khusus yang disebut Glaives, terdiri dari para pemuda-pemudi unggulan dari desa-desa sekitar, untuk melindungi Lucis dari Niflheim. Datang tawaran dari Niflheim untuk gencatan senjata lewat pernikahan politik antara putra Regis, Noctis, dengan putri Lunafreya (Lena Headey), dari wilayah jajahan Niflheim. Tetapi, nothing is like what it seems. Dari sudut pandang seorang Glaive andalan, Nyx (Aaron Paul), bergulirlah berbagai intrik menjelang penandatanganan perjanjian gencatan senjata, dari siasat Niflheim untuk merebut sumber kekuatan Lucis, pemberontakan politik dari pihak rakyat Lucis sendiri, hingga bahwa Lunafreya ternyata tidak sepenuhnya berpihak pada Niflheim.

Dari sekitar 100-an menit durasinya, satu hal yang jelas paling membelalak mata gw adalah kualitas animasinya yang uh-ma-zing. Dibuat dalam gaya photorealistic, hampir mirip live-action walau memang masih kelihatan animasi CGI, ditambah dengan desain-desain yang cantik memukau spektakuler dan efek visual yang meriah. Keren dan megah sekali tata artistiknya, animasi orang-orangnya juga nggak bikin sakit mata dan lebih bernyawa dibanding film-film animasinya Robert Zemeckis, misalnya. Konsepnya juga sangat menarik, menggabungkan unsur fantasi dengan atmosfer kontemporer--ada smartphone juga di sini--yang menyatu dengan sangat mulus. Cukup menyenangkanlah menyaksikan visual film ini.

That being said, sayangnya, itu semua tidak diikuti dengan penuturan cerita yang enak. Walau sudah "di-serius-i" sebagai sebuah film naratif, film ini buat gw terlalu rushing dalam bertutur, jahitan antar adegannya kadang lebih mirip montase dengan shot yang singkat-singkat, dan gw juga merasa beberapa voice-acting-nya terlalu "voice-acting", you know, kurang natural gitu kayak dubbing-an anime di Animax--dan memang pada prinsipnya ini anime dengan tim utama di Jepang tapi disesuaikan dengan audiens internasional. Alhasil, perkenalan cerita dan tokoh-tokohnya jadi terasa buru-buru sehingga kurang ngeresep, dan beberapa intrik yang sebenarnya cukup rumit jadi ya-udahlah-pokoknya-begitu.

Sayang sih, padahal idenya dan konsepnya keren banget, dan berpotensi membuat film ini cukup kokoh untuk jadi film mandiri. Tetapi, ya what do you expect, film ini memang tak lain adalah produk komplementer dari cerita game-nya kelak, yang harus "diselesaikan" lewat game-nya. Mau nggak mau harus dimaklumi kalau film ini berakhir kentang--kena tanggung, in case you forgot what that stands for--dengan misi yang sudah ditanamkan di awal tidak benar-benar tercapai, justru beralih ke konflik lain yang tidak terlalu ditekankan sebelumnya. "Klimaks" hanya ditandai dengan pertarungan gaduh porak-poranda--yang menurut gw juga agak too much--dan udah aja gitu. Dibilang bersambung iya, dibilang klimaks nggak terlalu, tapi ya mau gimana. Meski begitu, buat gw yang merasa udah game-o-pause--hasrat menurun untuk nge-game =P--minimal udah bisa menikmati grafisnya yang luar biasa dan bisa nyangkut juga sama worldbuilding-nya. Di mana lagi bisa lihat kisah fantasi yang ada mobil sport Audi dan logo Uniqlo-nya.





My score: 6,5/10

[Movie] Sadako vs Kayako (2016)



貞子vs伽椰子
Sadako vs. Kayako
(2016 - Kadokawa/NBC-Universal)

Written & Directed by Kouji Shiraishi
Based on Ringu characters by Takashi Shimizu and Ju On characters by Kouji Suzuki
Produced by Daiji Horiuchi, Hideyuki Sakurai, Yoshio Yokozawa, Jungo Maruta, Tooru Emori
Cast: Mizuki Yamamoto, Tina Tamashiro, Aimi Satsukawa, Masahiro Komoto, Masanobu Ando, Mai Kikuchi, Misato Tanaka, Runa Endo, Elly Nanami, Rintaro Shibamoto


Dua demit tersohor dari blantika horor Jepang dipertemukan. Gila? Emang. Seri Ring (atau Ringu) dengan si demit Sadako berhasil mempopulerkan horor sunyi-sunyi serem khas Jepang ke mata dunia di akhir era 1990-an. Lalu seri Ju On dengan si demit Kayako dan Toshio juga mengikuti. Keduanya lalu jadi franchise penghasil uang bagi pemilik hak ciptanya--bahkan keduanya sudah diadaptasi ke Hollywood, terlepas kualitas tiap filmnya yang tentu nggak seragam. Film Ringu (1998) menjadi salah satu alasan gw ogah nonton film horor sering-sering >,<, sementara Ju On adalah seri yang mengesalkan gw karena aksi si demitnya tuh seenak udel aja nggak pake aturan. Kedua seri ini punya satu kesamaan besar, yaitu kutukan yang jadi sorotan utamanya tak akan berakhir, manusia fana pasti kalah. Lalu apakah mengadu Sadako dengan Kayako dapat mematahkan dua kutukan itu? Yakali. Kalau iya, habis dong franchise-nya nggak bisa dilanjutin lagi. Kapitalis.

Sadako vs Kayako mungkin tepat disebut sebuah nostalgia dengan cara aneh. Kutukan Sadako-nya masih pakai kaset video--beberapa seri teranyarnya soalnya udah pake digital, yang kalau ditonton maka yang nonton akan mati beberapa hari. Tapi, memang ada perubahan dari isi videonya, lebih singkat, dan sepertinya menggugurkan syarat menghindari kematiannya--kalau nggak salah dulu harus kopi videonya dan tunjukkin ke orang maka nggak jadi mati, makanya disebut 'ring' karena akan berputar terus bukan? Kalau di sini pokoknya ya mati aja *agak nggak mau mikir ya sutradaranya*. Kutukan Kayako-nya juga masih di sebuah rumah jelek, siapa saja yang masuk dalam rumah itu akan mati. Soal kapan, di mana, dan bagaimana, itu suka-suka Kayako karena dia adalah demit ter-random yang pernah ada di sinema =(. Korbannya adalah tetap orang-orang bodoh yang cari mati: dua anak kuliah yang iseng nonton video kutukan Sadako karena nggak percaya urban legend semacam itu, lalu ada anak SMA pindahan yang "merasa" ditarik untuk masuk ke rumah jelek terkutuk Kayako. 

Well, sebodoh apa pun itu, paling nggak, Sadako vs Kayako masih "setia" pada pakem film-film sebelumnya. Pasalnya, film ini ya isinya cuma itu, ngulang-ngulang apa yang udah pernah dilakukan aja. Kalaupun ada sesuatu yang baru, adalah keberadaan paranormal bernama Keizou (Masanobu Ando) dan Tamao (Mai Kikuchi) yang mempunyai ide mengadu domba Sadako dan Kayako yang akan berebutan korban. Tapi, ya itu juga nggak menambah value apa-apa, selain menggarisbawahi bahwa film ini sebenarnya berangkat dari ide yang seru-seru konyol, lalu kemudian mentok di situ. Percuma saja berharap "pertarungan" seru nan akbar antara dua demit seleb ini karena we barely see anything dan kemudian malah bergeser ke gaya grotesque yang sama sekali nggak nyambung sama jiwa kengerian yang membuat Ringu dan Ju On terkenal. Dan, kalau mau ditertawakan sebagai sebuah meta-horror-black-comedy juga ternyata nggak segitunya, mungkin karena akting pemainnya juga agak lifeless dan filmnya memang tidak diniatkan lucu. Kecenderungannya berpanjang-panjang sementara pertarungan yang dinantikan cuma nongol di penghujung akhir juga nggak membantu kenikmatan film ini.

If anything, gw sebagai bukan penggemar horor setidaknya masih bisa deg-deg serr sama beberapa adegan. Berarti film ini tetap menjalankan hakikatnya sebagai film horor, atau cuma gw-nya yang masih bisa diperdaya oleh permainan anitisipasi khas film horor kayak gini, huhuhu. Tapi, ya begitulah, Sadako vs Kayako jadi satu lagi perwujudan wahana rumah hantu yang masih mampu menakut-nakuti walau tanpa makna. I mean, bodohnya kita bila menganggap akan ada konklusi revolusioner dari film ini, akan ada titik balik, turning point yang membuat film ini punya posisi penting dan tak tergantikan di franchise-nya. Tapi ternyata intinya ya tetap orang-orang semuanya akan mati dan demit-demit ini akan tetap digdaya. So what's the point? Sehabis menonton gw merasa film ini nggak ada gunanya selain mengulang gimmick-gimmick yang itu lagi-itu lagi. Sesekali sih lucu juga tapi kalau kebanyakan ya jadi males juga.





My score: 5,5/10

[Movie] Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita (2016)


Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita
(2016 - Jakarta Media Syndication/Geppetto Productions)

Directed by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Story by Tio Pakusadewo
Produced by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Cast: Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Jantra Suryaman, Wicaksono Wisnu Legowo


Bingung juga apakah film ini termasuk dalam fiksi atau dokumenter. Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita bisa jadi fiksi, karena ada tokoh yang diperankan oleh bukan orang aslinya---pengertian macam apa ini =D? Bisa juga dokumenter karena film ini memang hampir seluruhnya menampilkan "dokumentasi", walaupun bukan dalam bentuk rekaman gambar atau suara seperti biasanya. Gw lebih nyaman menyebut ini sebagai concept film, karena konsep filmnya jelas: membacakan ulang pidato Soekarno pada saat kongres Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), 1 Juni 1945, yang di dalamnya berisi gagasan tentang dasar negara Indonesia yang kemudian berkembang jadi Pancasila. Dibilang experimental film juga bisa, tetapi gw merasa itu biasanya disematkan bagi film-film yang gw nggak paham konsepnya #eehhh.

Jadi, dokumentasi yang disampaikan di sini adalah pidato-nya Soekarno, sebagaimana dicatat oleh notulen rapat pada saat itu. Berdasarkan catatan itu, word-by-word, start to end, dibacakan oleh Tio Pakusdaewo yang berperan sebagai Soekarno. Doi mungkin memang visually nggak mirip Soekarno, tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu, yaitu bagaimana pidato tersebut bisa disampaikan seakan itu milik dia, bukan dalam bentuk "membaca"--karena konon Soekarno juga berpidato ini tanpa bantuan teks, dan dengan artikulasi yang mantap. Ada kalanya bagian-bagian istilah asing terdengar jelas di-dubbing ulang pada pascaproduksi--bukan dari audio saat syuting--demi memperbaiki pengucapan agar lebih benar, sehingga di beberapa tempat sound-nya agak kurang mulus. Tetapi, ini juga menunjukkan keseriusan pembuat film ini untuk tidak asal tabrak aja hal-hal yang mereka tidak ahli, dan menurut gw itu sangat patut diapresiasi *nggak kayak film drama cinta berlatar luar negeri yang gw review baru-baru ini, ehem*.

Konsepnya sendiri nggak berhenti di situ. Film ini juga jadi semacam slide presentasi tentang apa makna dari pidato Soekarno, apa dan siapa saja referensinya, apa dampaknya, yang bisa dibaca langsung saat diucapkan. Ditambah lagi, sesuai dengan judulnya, film ini juga secara selang-seling menampilkan situasi bangsa Indonesia dalam berbaga zaman, termasuk zaman sekarang, yang dianggap relevan dengan bagian yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya. This is interesting, karena jadi terlihat penekanan-penekanan bahwa sepertinya situasi yang diamati Soekarno di Nusantara sebelum merdeka dulu kayak ada kesamaannya dengan masa-masa setelah merdeka, bahkan sampai sekarang. Tentang pertarungan ide, keberagaman, kesejahteraan...pokoknya pas nonton kok kayaknya dari yang diomongin di pidatonya, dulu sama sekarang masalah kita kok di situ-situ aja ya.

Politics aside, Pantja Sila adalah sebuah film yang menurut gw mampu mencapai tujuannya, dengan presentasi nggak neko-neko, walau nggak neko-neko itu pula yang bikin filmnya bisa menjemukan. Namun, film ini terbilang berhasil dalam kembali menyegarkan memori tentang bagaimana Indonesia didirikan dan mungkin menginspirasi bagaimana Indonesia harus dibangun sekarang. Gw mungkin nggak bisa fully enjoy this sebagai sebuah "tontonan", tetapi gw juga nggak bisa membayangkan cara lain untuk menyampaikan materi ini di layar lebar dengan lebih asyik dan tepat, jadi ini adalah karya yang bagus dengan caranya sendiri.





My score: 7/10

[Movie] Tiga Dara (1956)


Tiga Dara
(1956 - Perfini/SA Films)

Directed by Usmar Ismail
Written by Usmar Ismail, M. Alwi Dahlan
Produced by Usmar Ismail
Cast: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriarti Iskak, Rendra Karno, Bambang Irawan, Fifi Young, Hassan Sanusi


Tahun 2012 lalu, salah satu film klasik terkenal Indonesia pascakemerdekaan, Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail kembali diputar di bioskop-bioskop setelah melalu proses restorasi atau perbaikan mutu audio visual yang tadinya usang termakan waktu, dan kemudian diubah ke format digital cinema, sehingga bisa disaksikan nyaris seperti sediakala. Tahun ini, kita kembali "dihadiahi" sebuah film klasik Indonesia legendaris yang berhasil direstorasi--kali ini oleh rumah produksi SA Films, yaitu film musikal Tiga Dara garapan Usmar Ismail juga. Harus gw akui gw tidak terlalu mengenal filmnya, tetapi somehow frase "tiga dara" sering sekali gw dengar sejak dulu dengan berbagai variasi, entah itu julukan di tabloid-tabloid atau judul-judul cerita atau sinetron, gw nggak ingat pasti. Dan, setelah baca-baca dan tanya-tanya--waktu film ini keluar orang tua gw aja masih sangat kecil atau baru akan lahir--mungkin itu terjadi karena film Tiga Dara merupakan film yang terbilang terkenal sehingga naturally jadi rujukan dalam budaya pop kita one way or another--bokap gw sih bilangnya film ini jadi terkenal karena waktu itu akhirnya ada film Indonesia yang bintang ceweknya banyak =D.

Gw pun tempo hari menonton Tiga Dara hasil restorasi, dan I can see why it became popular. Secara persembahan visual--yang tentu saja hitam putih, film ini memang manis sekali dipandang. Si Tiga Dara-nya cakep-cakep dengan alis tebal hitam yang menonjol, dan salah satu image yang nggak bisa gw unsee adalah Mieke Wijaya yang selama ini gw kenal hanya dengan peran-peran somebody's mother ternyata dulu adalah sesosok bombshell *that Tamasya scene =D*, selain jago akting tentu saja. Pengadeganannya pun smooth banget sekalipun masih agak teatrikal sedikit--mungkin sebagaimana film di era tersebut. Isi filmnya pun memuat banyak hal yang menurut gw disukai khalayak, bahkan sampai sekarang. Cerita ringan, tingkah dan dialog jenaka, musik yang bikin sumringah, happy ending. Bagaimana film ini dibawakan pun sebenarnya begitu easy, straightforward, bahkan silly, tetapi entah kenapa, kena aja gitu, dan gw sekarang masih bisa menikmatinya.

Kalau dilihat dari jalan ceritanya, sebenarnya akan sangat familiar bagi generasi sekarang. Kenapa? Karena kayaknya semua film dan sinetron kita masih banyak yang pakai pakem cerita film ini. Jadi ada tiga wanita bersaudari di satu rumah tinggal bersama ayah dan nenek mereka, setelah cukup lama ditinggal wafat oleh ibunya. Si nenek (Fifi Young)--dengan pakaian sangat tradisional, gestur bungkuk, dan demen mengunyah sirih--mulai khawatir sama nasib anak tertua, Nunung (Chitra Dewi) yang masuk usia 29 tahun dan belum ada tanda-tanda akan bekeluarga. Nenek menyalahkan Nunung yang terlalu sibuk mengurus rumah tangga dan tak pernah bergaul keluar, lalu meminta si ayah (Hassan Sanusi) dan juga adik-adik Nunung, Nana (Mieke Wijaya) si party girl (dalam versi zamannya ya) dan Nenny (Indriati Iskak) si remaja sekolahan, untuk mengajak Nunung bertemu banyak orang dengan harapan mendapat jodoh. Upaya mereka percuma karena Nunung tak bisa menutupi ketidaknyamanan dengan menjalani hal-hal yang tak biasa ia lakukan, belum lagi dia dinilai judes.

Suatu hari sebuah peristiwa nggak enak mempertemukan keluarga ini dengan Toto (Rendra Karno), yang nabrak Nunung di jalan saat naik motor Vespa--yang saat itu masih obviously disebut skuter. Tapi, itikad baik yang dilakukan Toto terhadap Nunung membuatnya jadi jodoh potensial untuk Nunung yang selama ini dinanti-nanti, setidaknya menurut si nenek. Masalahnya, karena Nunung tetap gengsi untuk terlalu dekat dengan Toto, malah Nana yang sering jalan bareng Toto dengan modus minta ajarin nyetir skuter *eaaa*. Padahal, Nana juga kelihatan sekali ditaksir oleh pemuda sahabat keluarga, mahasiswa bernama Herman (Bambang Irawan) yang langsung panas melihat Nana agresif bener mendekati Toto. Lalu, apakah Nunung akan menemukan jodohnya?

Ini entah karena filmnya evergreen atau emang kitanya yang nggak maju-maju, persoalan yang diangkat di sini kayak masih terjadi ya sampai sekarang, ketika semua orang mengukur kebahagiaan dengan pernikahan, seolah-olah kalau udah menikah semua persoalan selesai dan nggak perlu mencapai apa-apa lagi, seolah-olah kalau nggak menikah itu sama dengan warga kelas rendah tak bahagia yang tidak ada nilainya karena manusia yang sempurna tanpa cacat cela dan pasti masuk surga hanyalah yang udah menikah *lah baper*. Yah, jadinya kalau menontonnya sekarang jadi kisahnya seperti biasa aja, tetapi bahwa gw masih bisa menikmatinya dengan tawa dan seruan "ciee" dan "eaa" pada dialog dan adegan yang patut digituin, membuktikan bahwa film ini memang masih punya daya tarik yang sangat kuat. Menurut gw alasan yang paling menonjol adalah bahwa karakter-karakter yang seharusnya komikal, jatuhnya tidak terasa one-dimentional. Ketiga saudari ini jelas punya watak masing-masing, tetapi gw tetap percaya mereka dibesarkan di satu rumah, you know, sebeda-bedanya watak, mereka tetap nyatu, dan gw terlarut untuk peduli sama mereka.

Dan, sebenarnya film ini nggak bisa dianggap dangkal juga. Kalau dilihat dari sudut pandang sekarang, film ini juga mengangkat social pressure yang "mengatur" bagaimana seharusnya orang berbahagia sejahtera, yang ternyata belum berubah banyak saat ini. Mungkin dulu tokoh Nunung dianggap keras kepala, makanya di bagian konklusinya ia belajar berubah. Tapi, buat gw, Nunung sebenarnya bisa dipandang sebagai panutan karena berprinsip teguh dan in control atas cara hidupnya, bukannya menggalaukan diri dan desperate hanya karena belum temukan pasangan berkembang biak. Mungkin ini yang jarang gw temukan di karya-karya lain setelah ini yang pakemnya mirip.

Sisanya, tentu saja menarik melihat "Jakarta" dan kehidupannya sebagaimana di-capture oleh pembuat film ini. Wilayah Blok M (sepertinya di jalan-jalan Panglima Polim dan Pakubuwono) yang masih terang dan lengang, dansa-dansi yang memang beneran asoy, ketidakgengsian menggunakan pakaian atau bahan kain tradisional bahkan untuk dansa-dansi itu, keramaian bioskop yang ternyata sudah ada calo, dan melodi serta lirik yang begitu syahdu dan menggelitik dari lagu-lagunya. Ngomong-ngomong soal lagu, sebagai film musikal--yang berarti ada bagian cerita yang dilagukan--mungkin tidak semuanya tampak mewah, bahkan masih ada kecanggungan di bagian koreografi kalau mau dibandingkan dengan film-film sejenis di Hollywood pada era yang sama. Tapi lagi-lagi, itu seolah nyambung dengan atmosfer film ini yang memang lebih komedik dan crowdpleasing. Menyenangkan sekali, charming, dan gw pun jadi lumayan ngerti kenapa film ini bisa berstatus legendaris.

Btw, versi restorasi film ini hasilnya bagus lho =).





My score: 8/10

[Movie] Winter in Tokyo (2016)


Winter in Tokyo
(2016 - Unlimited Productions/Maxima Pictures)

Directed by Fajar Bustomi
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the novel by Ilana Tan
Produced by Oswin Bonifanz
Cast: Pamela Bowie, Dion Wiyoko, Morgan Oey, Kimberly Ryder, Brandon Salim, Ferry Salim, Brigitta Cynthia, Tokio Shinozuka


Sepertinya udah beberapa kali gw ungkit di blog ini bahwa gw punya ikatan tersendiri dengan yang namanya Jepang. I like Japan stuff since forever, I studied it, pernah nyicip tinggal di sana *bentar doang sih*, ya begitulah. Jadi, ketika muncul film-film Indonesia yang ada unsur Jepangnya, gw langsung merasa terpanggil. Apalagi jika muncul seperti apa yang dilakukan sangat lancang berani oleh film Winter in Tokyo, yaitu cerita orang Jepang berlatar Jepang yang dibuat dan dimainkan oleh orang Indonesia. Ini jelas konsep yang ridiculous, tapi buat gw standar-nya sih simpel, bisakah mereka bisa membuat gw larut sama ceritanya sampai abai bahwa ada sebuah budaya/bangsa spesifik yang diangkat di sini dan melupakan Indonesian-washing *versi lokal dari white-washing ala Hollywood =P* yang dilakukannya. Gw bukannya anti, karena di Hollywood udah sering lakukan ini, dan tentu saja film Indonesia yang menampilkan karakter Jepang yang dimainkan orang Indonesia bukan pertama kalinya dilakukan, cuman terbukti nggak semua bisa menggambarkan dengan tepat tentang salah satu bangsa dan kebudayaan terkenal dunia dan banyak referensinya sehingga mudah dipelajari itu. Misalnya, gw cukup impressed dengan penampilan Joe Taslim dan nyaris semua unsur ke-Jepangan yang digambarkan di film La Tahzan, Abdullah v Takeshi itu bolehlah untuk ukuran komedi, sementara kalau yang di Love You Love You Not itu ngaco banget. Nah, Winter in Tokyo ini gimana?

Story-wise, ini adalah kisah roman lembut sepasang pemuda-pemudi tetanggaan yang akrab tapi nggak jadian karena satu dan lain hal. Satu hal itu adalah karena si cewek, Keiko (Pamela Bowie) jatuh cinta sama orang lain, Akira (Morgan Oey), dokter yang ternyata dulu adalah kakak kelas yang sempat ditaksirnya waktu SD. Si lakinya, Kazuto (Dion Wiyoko) melakukan berbagai cara untuk bisa menjadi kepercayaan Keiko dan always be there for her, tapi ya gimana Keiko lebih memilih mem-pursue hubungannya dengan Akira yang lama tertunda. Sementara 'lain hal'-nya adalah Kazuto mengalami kecelakaan dan mengalami kehilangan sebagian ingatannya, sehingga hatinya kini lebih terpaut sama kekasih lamanya, Yuri (Kimberly Ryder). Nah, di saat inilah si nggak-peka-Keiko *lah kebawa emosi* mulai menyadari kekosongan dalam dirinya saat Kazuto "hilang".

Manis banget nggak siih ceritanyaaah uwuwuwu =D. Menurut gw, se-menye-menye ceritanya, film ini sudah cukup mengikuti pakem film atau dorama roman khas Jepang dengan tokoh-tokoh muda. Dari kebetulan-kebetulannya--ada kali tiga adegan tokoh-tokohnya saling nabrak di sini, sampai ke nggak adanya adegan serba bombastis emosinya, karena itu bagiannya drama Korea. Dari isi ceritanya, sebenarnya nggak masalah-masalah amat selain emang gw-nya yang nggak selera sama cerita beginian. Tetapi, koreksi gw di sini mungkin sama dengan film-film roman Indonesia lain dengan target remaja, yaitu membesar-besarkan hal kecil dan menggampangkan hal besar. Di sini poinnya adalah soal hilang ingatan yang dialami Kazuto. Itu kondisi yang make sense dan sebenarnya serius, sehingga gw tertarik dengan bagaimana psikologi seseorang yang kehilangan sebagian memorinya, yang nggak tahu sekian waktu ia sudah melakukan apa dan bertemu dengan siapa saja, semacam eksaminasi apabila ingatan hilang apakah perasaan yang menyertainya juga akan terhapus. Sayangnya, di sini itu cuma dianggap sebuah "twist" sehingga baru dibahas di sepertiga akhir filmnya dan diselesaikan dengan mudah pula.

However, jika hanya itu problemnya, film ini masih gw kasih nilai aman deh. Akan tetapi, film ini gagal dalam melakukan satu PR besar yang tak kalah penting dari menyusun cerita, yaitu konsep universe-nya. Sebagaimana disinggung di atas, film berkisah tentang orang Jepang di Jepang, tanpa intervensi unsur ke-Indonesia-an kecuali latar tokoh Keiko yang ada darah Indonesianya, which was nggak relevan juga sama ceritanya. Nah, apakah orang-orang Indonesia ini bisa meyakinkan gw bahwa mereka orang Jepang? I should say tidak. Menurut gw, hanya si Morgan, dan dalam porsi tertentu si Pamela juga, yang mampu meyakinkan gw dia could be orang Jepang dengan semua gestur yang ditunjukkannya, ke cara berdiri, jalan, dan ekpsresi bicaranya, sekalipun ia berbahasa Indonesia, yah minimal kelihatannya mereka yang paling bener dalam mencari dan memanfaatkan referensi dalam perannya. Sisanya, bah, cuma dibantu pakaian doang. Gini ya mas-mas, mbak-mbak, kakak-kakak, adek-adek, jika ada yang paling membedakan China-Jepang-Korea, itu bukan di muka, tapi di gestur, dan gestur itu keluar dari dalam diri, bukan dari pakaian. Lihatlah bedanya Jepang jadi-jadian ini dengan dua pemain Jepang betulan yang tampil di sini dengan speaking role--si ibu pemilik apartemen dan teman kerja Keiko di perpustakaan. Dan, itu jadinya juga terbawa ke akting mereka yang kayak nggak ada usaha untuk ingat bahwa mereka ceritanya bukan orang Indonesia.

Atau yang versi amannya, bisakah film ini membuat gw nyuekin bangsa dan budaya spesifik Jepang yang diangkat di sini? Yang ini malah 100 persen nggak. Kesalahan yang paling fatal dan paling bikin gw geregetan adalah, untuk nunjukkin "ini Jepang loh", mereka maksa memasukkan beberapa kalimat bahasa Jepang dalam dialog-dialognya. Itu nggak perlu karena: 1) terkadang nggak sesuai konteks--balasan untuk "arigatou gozaimasu" tidak harus selalu bentuk formal "dou itashimashite", di sehari-hari gw lebih sering dengar  balasannya cuma "iie" (maksudnya "nggak perlu berterima kasih"); dan 2) PEMAINNYA KELIHATAN JELAS NGGAK BISA BAHASA JEPANG! My God bagian ini paling painful untuk disaksikan, setiap ada yang ngomong bahasa Jepang rasanya pengen tutup kuping dan teriak "stop speaking Japanese already!"--tapi karena nggak sopan ya harus ditahan. Dan gw nggak tahu harus menyalahkan apa dan siapa, katanya orang Jepang tinggal di Jepang tapi ngomong bahasa Jepang yang cuma sepotong-sepotong itu nggak ada fasih-fasihnya, berusaha terdengar fasih pun tidak, kayak kekurangan referensi tontonan dorama dan anime Jepang atau nggak mau bayar pelatih/konsultan, jadi cuma tabrak aja apa yang ditulis di skenario atau disuruh sutradara/siapapun yang menyuruh mereka melakukan itu. Rusak sudah upaya suspension of disbelief-nya. 

Padahal, ini dengan bisa dengan mudah dihindari, entah itu belajar yang benar sampai (terdengar) fasih, atau nggak perlu pakai bahasa Jepang sama sekali di dialognya. Gw nggak masalah film berlatar suatu negara dan bangsa diceritakan dalam bahasa lain, teater 'kan sering begitu, film atau anime Jepang juga sering begitu. Gw ngistilahkannya "self-dubbing", ganti semua bahasa utamanya dengan bahasa penutur ceritanya. Contoh paling perfect dalam konteks ini adalah 47 Ronin (2013), yang me-replace semua bahasa Jepang dengan bahasa Inggris, bahasa di luar itu ya tetap pakai bahasa asing. Simpel. Winter in Tokyo seharusnya bisa kayak gitu, bahkan dialog bahasa Indonesia-nya sebenarnya sudah terdengar formal karena mungkin di-seolah-olah-kan ini di-"dubbing" dari bahasa Jepang, tetapi mungkin itu dianggap kurang gimmicky, jadi dipaksain ada bahasa Jepangnya di beberapa tempat. Ya maap aja, itu pilihan yang keliru, karena sumber daya yang tak memenuhi.

Dan, setelah gw pikir-pikir, Winter in Tokyo ini juga nggak harus banget dibuat di Tokyo betulan dengan karakter orang Jepang. Kalau mau dan memang berniat mengulik secara kreatif, setting-nya bisa ditukar dengan tempat lain, karena nggak ada hal krusial dalam cerita yang mengharuskannya terjadi di Jepang. Gw akan lebih memilih mengembangkan cerita ini berlatar Indonesia dalam gaya dorama Jepang, atau sekalian dibuat kerja sama produksi dengan Jepang dengan bahasa sana dan pemain dari dua negara--jadi ada karakter yang dirombak dikit kebangsaanya, serta diedarkan juga di sana, toh ada nilai uniknya bahwa kisah berlatar dan berkarakter Jepang ini (novelnya) justru dibuat oleh orang Indonesia, karena menurut gw ceritanya nggak malu-maluin amat untuk jenis ini. What a missed opportunity

Jadi, itulah permasalahan gw sama film ini. Mungkin reaksi gw berlebihan tetapi kalau hari gini udah zamannya internet, udah ada pusat bahasa dan kebudayaan Jepang, udah cukup banyak link kerja sama Indonesia-Jepang, dan udah ada channel WakuWaku Japan, memaksimalkan referensi dan riset untuk hal-hal yang diperlukan untuk film seperti Winter in Tokyo ini malah kayak disepelekan, cuma diambil gampangnya aja, ya sulitlah gw untuk respek. Gw akui, jika memang benar-benar mengabaikan itu semua, film ini kayaknya akan cocok dengan yang suka roman mellow begini, dan itu nggak ada salahnya, I'm not judging, toh sebenarnya secara konten jalan cerita dan sebab akibatnya nggak terlalu membodohi. Namun, gw sendiri sangat sulit menikmatinya sedemikian...dengan titik kulminasi pada dialog "Tokyo dan Kobe 'kan tidak terlalu jauh", karena gw yang masih sangat tradisional ini belum bisa menerima bahwa 500-an kilometer atau 3 jam-an sekali jalan dengan kereta Shinkansen (!) itu masuk dalam kategori "tidak terlalu jauh".





My score: 5,5/10

[Movie] Suicide Squad (2016)


Suicide Squad
(2016 - Warner Bros.)

Written & Directed by David Ayer
Produced by Charles Roven, Richard Suckle
Cast: Will Smith, Margot Robbie, Jared Leto, Viola Davis, Joel Kinnaman, Cara Delevigne, Jai Courtney, Jay Hernandez, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Karen Fukuhara, Scott Eastwood, Adam Beach, Ike Barinholtz, Common, Ezra Miller, Ben Affleck


DC Comics dan Warner Bros. tengah membangun sebuah cinematic universe dari superhero mereka, dimulai dari Man of Steel lalu dilanjut dengan Batman v Superman: Dawn of Justice, lalu akan lanjut lagi dengan Wonder Woman, The Flash, Aquaman, dan gabungan dari mereka semua, Justice League. Tetapi, di antara itu semua, terseliplah Suicide Squad. Sebagai non-pemerhati industri komik Amerika, Suicide Squad akan dapat reaksi otomatis 'hah apaan tuh?' dari gw, dan ternyata memang ini bukan kisah superhero kebanyakan--dan mungkin itu sebabnya promosinya digeber banget. Memang masih satu dunia dengan para superhero itu, tetapi ini ternyata lebih kepada kisah program rahasia pemerintah merekrut para penjahat berkemampuan khusus untuk misi negara, keuntungannya adalah apabila gagal, pemerintah bisa tinggal nyalahin mereka, dan kalau mereka mati menjalankan misi ya berarti dunia hanya akan kekurangan beberapa penjahat. Kisah ini kemudian jadi the other side dari dunia superhero DC, sehingga jangan heran kalau tokoh-tokoh yang lebih dahulu terkenal terkenal, seperti Batman, The Flash, dan even The Joker pindah posisi jadi tokoh-tokoh pendukung aja.

Yang kemudian dipersembahkan dalam film Suicide Squad adalah perpaduan ganjil antara kisah laga superhero dengan kisah kriminal dunia bawah kekinian gitu, dipenuhi dengan karakter-karakter aneh yang tidak diketahui pasti agenda dan keberpihakannya, dihiasi berbagai ornamen bling bling ala hip hop yo, dan unsurprisingly mengingatkan pada film-film David Ayer yang pernah gw tonton sebelumnya, film kriminal End of Watch dan film perang FuryWell, they're bad guys, mereka ini ditangkap--beberapa oleh Batman--karena berbuat kejahatan memanfaatkan kemampuan dan keterampilan istimewa mereka. Seorang agen pemerintah, Amanda Waller (Viola Davis) kemudian berinisiatif untuk membuat sebuah regu khusus untuk menjalankan misi negara, karena mereka tak mau selamanya bergantung sama Superman dan kawan-kawannya, karena mereka juga nggak percaya orang-orang yang disebut meta-human itu akan berada di pihak 'yang benar' alias membela kepentingan US of A.

Waller kemudian membentuk satuan yang dipimpin oleh tentara Rick Flag (Joel Kinnaman), yang harus "mengayomi" sekelompok penjahat: Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), El Diablo (Jay Hernandez), Captain Boomerang (Jai Courtney), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), dan Slipknot (Adam Beach). Ini ditambah lagi dengan bantuan rekan Flag, Katana (Karen Fukuhara) dan tenaga supranatural dari penyihir kuno Enchantress yang merasuki tubuh kekasih Flag, Dr. June Moone (Cara Delevigne). Namun, justru di sini permasalahannya dimulai. Enchantress rupanya berhasil bersiasat membangkitkan adiknya yang berwujud monster mistis dan menciptakan huru-hara di Midway City. Maka, dimulailah misi perdana dari Task Force-X atau nama jalanannya, Suicide Squad.

Seiring berjalannya film, gw tergolong orang yang tertarik dengan apa yang diangkat di film ini. Lucu aja bahwa di samping plot utamanya tentang menyelesaikan sebuah misi, di sini juga diangkat baik Waller maupun para penjahat ini mau saling mengakali, pasalnya para penjahat ini melakukan hal ini dengan paksaan, dan ketika mereka nggak dikurung di penjara dan berada di ruang terbuka tanpa dibelenggu, hasrat untuk kabur jelas semakin besar. Salah satu yang ongoing sepanjang cerita adalah bagaimana Harley menanti upaya penyelamatan oleh kekasihnya dalam kegilaan dan kejahatan, The Joker (Jared Leto). Sementara Waller menggunakan trik menanamkan alat pemantau di dalam tubuh personel ini, yang akan meledak dan menewaskan bila mereka bertingkah macam-macam. Ancaman fisik maupun psikologis gitu. Dari sini masuklah pertanyaan, kalau pemerintah juga berani bertindak sekejam itu, yang jahat siapa? Dalam dunia DC, mungkin itu alasan kenapa Superman harus ada.

Anyway, pada penyajiannya Suicide Squad ini nggak terlalu berat ternyata. Dari perpindahan shot dan adegan yang cepat, adegan laga yang heboh, humor sana-sini, bahasa-bahasa slang ala gangster--bahkan Joker di sini sangat gangsta dan nggak mau kalah bling sama P.Diddy, hingga deretan soundtrack dari lagu-lagu lawas membuat gelapnya tema menjadi lebih light dan menyenangkan. Dan, yang gw nggak sangka, film ini masih sempat selipkan unsur emosi pada beberapa karakternya. Ada salah satu adegan yang menurut gw brilian, ketika Harley lagi sedih di tengah hujan setelah sebuah peristiwa, lalu datanglah rekan-rekannya, dia langsung maksa pasang tampang cengengesan-gendeng-nya lagi. Dalam waktu dan ruang cerita yang terbatas, film ini menurut gw bisa meng-include unsur-unsur yang cukup untuk menjadikannya film yang menghibur. Belum lagi penataan visualnya yang lusuh tapi keren bikin gw asyik aja ngikutin apa yang disajikan film ini--terutama di final battle-nya yang buat gw lebih cool dilihat daripada beberapa adegan sejenis di film-film superhero setahunan belakangan ini, dan segala design yang menyangkut Enchantress itu menurut gw epic.

Tetapi, gw juga sebenarnya melihat bahwa penuturan film ini agak berantakan. Mood film ini kurang konsisten dan belok-beloknya kasar, dari yang cool-yo-wassup-yo ke yang dramatik ke yang komikal ke yang pertaruhan keselamatan seluruh dunia. Dan, ini sebenarnya udah kelihatan di awal ketika perkenalan tokoh-tokohnya agak redundant: udah ada perkenalan random ala Quentin Tarantino di awal, eh ditambahin lagi di pas perekrutan--kalau gw boleh pilih, yang pekenalan ala Tarantino-nya mending nggak usah, tapi entar dibilangnya filmnya kurang ceria *Cherrybelle kali ah*. Di salah satu bagian juga film ini antara niat-nggak-niat untuk ngasih twist atau pengungkapan dalam plot yang sebenarnya udah jelas terbaca tapi diulang lagi dengan penjelasan yang nggak meng-elevate ceritanya juga.  Dan, film ini juga kena penyakit tipikal film dengan tokoh-tokoh banyak, yaitu nggak semua tokoh dapat kesempatan untuk shine. Dari cerita ini, mungkin hanya Deadshot dan Harley yang paling menonjol, dan buat gw si El Diablo dan Rick Flag juga berhasil mencuri perhatian lewat story arc-nya, tetapi tetap aja itu nggak terjadi di semua anggota tim. Untung aja, deretan pemainnya jempolan banget--gw termasuk nggak nyangka Kinnaman bisa imbangi aktor sekaliber Will Smith dan Viola Davis, plus didukung kostum dan makeup yang berkarakter, jadi kemunculan tokoh-tokoh yang porsinya lebih sedikit at least bisa tetap teringat. 

However, untuk segala keberadaannya, gw condong untuk menikmati Suicide Squad ini. Film ini punya tema dan angle menarik dari dunia superhero DC dan disajikannya juga dengan style--walau kadang ya kurang konsisten itu tadi. Sebuah break yang asyik dari gegap gempita sosok superhero-superhero dengan nama besar, menonjolkan karakter-karakter dengan kelakuan kurang terpuji tapi (beberapa) bisa menarik simpati tetapi tidak juga sertamerta membenarkan mereka. Bahwa penuturan filmnya agak berantakan pun juga seperti mencerminkan tokoh-tokohnya yang emang nggak ada yang 'bener', hehe. Gw masih menunggu karya-karya lebih besar dan lebih solid dari dunia superhero DC ke depannya, tetapi for now Suicide Squad adalah sajian sela yang menyenangkan.





My score: 7/10

[Movie] 3 Srikandi (2016)


3 Srikandi
(2016 - MVP Pictures)

Directed by Iman Brotoseno
Written by Swastika Nohara, Iman Brotoseno
Produced by Raam Punjabi
Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro, Donny Damara, Mario Irwinsyah, Detri Warmanto, Indra Birowo, Ivanka Suwandi, Rina Hassim, Joshua Pandelaki


Lebih dari setahun lalu proyek film 3 Srikandi sudah terdengung khususnya di media sosial, dan terdengar cukup ambisius juga. Film ini akan mengedepankan aktor-aktris Indonesia yang lagi top-topnya, termasuk comeback dari Bunga Citra Lestari--walau kemudian film ini dirilis setelah dua film BCL lain yang justru syutingnya sesudah 3 Srikandi. Selain itu, film ini juga mengangkat salah satu peristiwa paling bersejarah di dunia olahraga Indonesia, ketika tim panahan putri kita meraih medali perak di Olimpiade Seoul 1988, yang merupakan medali pertama Indonesia di kancah Olimpiade. Semacam ada beban berat bagaimana film ini akan dipresentasikan menjadi sebuah tontonan yang baik sekalipun mengandung unsur sejarah, biografi, inspirasi dsb dsb. Tetapi, melihat hasilnya, gw rasa film debut layar lebar sutradara Iman Brotoseno ini bisa mengatasi itu, bahkan sedikit di luar ekspektasi gw.

Singkatnya, film ini menceritakan perjalanan yang ditempuh tiga pemanah putri Indonesia, Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardhani (Tara Basro) di bawah pelatih Donald Pandiangan (Reza Rahadian), sampai akhirnya medali perak Olimpiade itu didapa. Polanya standar sports movie sih, orang-orang dari latar berbeda dan kesulitan masing-masing harus bersatu, berat-beratnya latihan, sempat gagal, hingga akhirnya meraih prestasi membanggakan di ajang terbesar dunia. Tetapi, itu semua dikali empat sesuai jumlah karakter yang dikedepankan di sini. Iya, empat. Kalau mau dijabarkan, film ini adalah kisah Bang Pandi bangkit dari kekecewaannya batal bertanding di Olimpiade dulu. Kemudian kisah yang agak mirip datang dari Nurfitriyana yang menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai atlet dan sebagai anak dituntut berbakti sama orang tua dalam bentuk menyelesaikan kuliah, serta dari Suma yang terbelah antara mengangkat ekonomi keluarga dengan jadi PNS atau jadi atlet yang tak bisa dijamin masa depannya, sekalipun jadi atlet itu membawa nama Indonesia. Lalu ada Lilies yang sebenarnya nggak ada masalah dengan kemampuan dan pilihan jadi atlet, tapi masih ada perselisihan dengan sang ibu (Ivanka Suwandi) yang juga melatihnya, gara-gara persoalan jodoh.

Sepanjang film, kita diajak untuk mengikuti perjalanan keempat tokoh ini dari perekrutan oleh pak pembina panahan (didn't catch the name, yang main Donny Damara) sampai titik kemenangan mereka di Seoul. Tetapi, ketimbang dibawa dengan mellow dan berderai keringat dan air mata, film ini bisa membawakannya dengan sangat menyenangkan. Seperti mau mengingatkan bahwa mereka ini juga manusia biasa dan masih muda-muda pada saat itu, jadi bagian haha-hihi dan bandel-bandelnya juga tidak disembunyikan. Entah itu cheating saat lari pagi, cinta-cintaan sesama atlet, sampai nyelonong kabur dari tempat pelatihan. Banyak senyum dan tawa timbul dari film ini, tetapi semua itu justru bikin gw jadi attached dan peduli sama mereka dan apa pun yang akan menimpa mereka. Jadi bukan dipaksa untuk kagum sama kehebatan mereka atau karena mereka wakili Indonesia, itu mah sudah dilakukan oleh para pemberita. Film ini justru membawa penonton untuk mendukung mereka karena diri mereka, which is important untuk sebuah film cerita, toh teknik memanah itu udah bukan problem utama lagi--gw suka bagian Lilies dihukum latihan sendiri, sambil ngedumel tapi sekali nembak langsung nancep di sasaran kuning, hehe.

And of course, menampilkan aktor-aktris kece di sini tidak percuma. Dengan banyak sekali mereka harus berbagi layar, pada pemain ini dapat bermain kompak dan asyik sekali, lengkap dengan aksen daerah masing-masing. Tapi Chelsea mungkin yang dengan mudah menarik perhatian, membawakan karakter Lilies yang memang paling outgoing dan banyak tingkah dengan sangat baik dan tidak berlebihan, semacam mengonfirmasi bahwa Chelsea memang punya kecocokan di peran-peran komedik. Reza, Tara, BCL, dan Mario Irwinsyah--jadi pacarnya Lilies--sangat smooth menghidupkan perannya dengan effortless. Mungkin yang menurut gw agak missed adalah penampilan Donny Damara yang somehow--mentang-mentang filmnya latar 80s--performanya agak kurang natural mirip film-film 80-an. Tapi dalam skala keseluruhan, this is an awesome cast.

Untuk dijadikan tontonan yang menghibur kalangan luas, 3 Srikandi menurut gw sangat berhasil. Film ini punya warmth, sisi fun dan emosi, dibungkus oleh pengemasan yang mulus. Ada pula nostalgia era 1980-an dari lagu-lagu, benda, kultur pop, hingga bahasa. Tetapi, itu juga berarti mengambil beberapa langkah kompromi, seperti bagian awal film ini yang dialognya tampak sekali ingin "menginformasikan" tentang latar situasi film ini, atau beberapa titik dramatis yang dibuat dalam jarak (terlalu) berdekatan. Tapi nggak masalah, karena itu cukup berguna agar film ini mudah diikuti alur dan grafik emosinya. Bahkan pada beberapa titik film ini seperti mencerminkan situasi yang masih terjadi sekarang, seperti pandangan bahwa prestasi atlet nasional kita terus menurun, kepengurusan yang tidak lancar, sampai sentilan kepada media peliput--kayak siaran TV baru mau nayangin panahan pas udah masuk final =D.

Akan tetapi, gw cukup menyayangkan absennya satu unsur cukup penting sehingga menjadi missed opportunity: pengetahuan. Gw tidak menuntut bahwa sebuah film harus mendidik, tetapi kalau ada sebuah pengetahuan yang dapat memperkaya, itu lebih bagus. Untuk 3 Srikandi, gw kehilangan beberapa proses dan pengetahuan dasar tentang pertandingan panahan tingkat dunia. Bagaimana sistem penilaiannya, bagaimana pembabakannya--'kan ada perorangan dan beregu, bahkan bagaimana proses para atlet bisa lolos kualifikasi bertanding di Olimpiade. Dengan ada pengetahuan ini, ketegangan saat adegan pertandingan bisa lebih tinggi lagi, jadi lebih terasa serunya, . Film ini hanya menunjukkannya secara permukaan, pokoknya sebanyak mungkin kena tengah sasaran, tapi ya sayang aja gw nggak dapat pengetahuan lebih daripada itu dari sebuah film (mungkin yang pertama di Indonesia) tentang atlet-atlet panahan.

Namun, harus gw ungkapkan bahwa gw suka dengan 3 Srikandi ini. Ini jenis film yang gw nggak akan keberatan untuk tonton ulang, karena penyajiannya yang menyenangkan serta keterampilan pemain dan filmmaker-nya ter-display dengan baik di sini. Bahkan, walaupun film ini bercerita tentang empat orang sekaligus, penuturannya nggak tumpang tindih dan gw bisa mengikuti kisah keempat-empatnya tanpa beban. Di luar beberapa kekurangannya, ini adalah film yang well-crafted dan universal, film yang nggak ngoyo untuk "mendidik dan menginspirasi" melainkan secara sendirinya bikin yang menonton jadi mendukung perjuangan karakter-karakternya. 





My score: 7,5/10

[Movie] Jason Bourne (2016)


Jason Bourne
(2016 - Universal)

Directed by Paul Greengrass
Written by Paul Greengrass, Christopher Rouse
Based on the characters created by Robert Ludlum
Produced by Frank Marshall, Paul Greengrass, Matt Damon, Gregory Goodman, Ben Smith, Jeffrey M. Weiner
Cast: Matt Damon, Alicia Vikander, Tommy Lee Jones, Julia Stiles, Vincent Cassell, Riz Ahmed, Ato Essandoh, Scott Shepherd, Bill Camp, Vinzenz Kiefer


Bourne adalah salah satu seri action terfavorit gw sepanjang masa, sekalipun diawali dengan meremehkannya. Jujur gw baru nonton The Bourne Identity (2002) lewat VCD sewaan ^_^;, dan nonton The Bourne Supremacy (2004) juga agak segan sampai akhirnya nonton beberapa pekan setelah rilis di bioskop termurah yang bisa gw temukan saat itu. Padahal kemudian seri Bourne jadi tontonan yang cukup sering gw ulang, dengan puncaknya di The Bourne Ultimatum (2007) yang edan itu. Misteri identitas si Bourne yang amnesia dan action yang raw dan unexpected menjadi nilai istimewa seri ini, dan sesungguhnya sangat cukup dengan tiga film saja. Tetapi, namanya bisnis kali ya, kalau bisa diperpanjang, kenapa tidak.

Sayangnya ini terhambat sama keengganan Paul Greengrass (sutradara Supremacy dan Ultimatum) untuk nerusin dan sang bintang utama Matt Damon yang ogah jadi Bourne lagi kalau nggak ada Greengrass *awww*. Makanya Universal Pictures nekat bikin lanjutan berupa spin-off, The Bourne Legacy (2012) dengan bintang Jeremy Renner, yang sebenarnya nggak buruk dan justru komplementer untuk universe Bourne, tapi ya tetap kayak kurang legit tanpa Damon dan Greengrass. Lalu, entah dapat wangsit apa, Damon dan Greengrass akhirnya setuju untuk menggarap film Bourne lagi. It's quite exciting, tetapi apakah mereka mampu lampaui film-film sebelumnya?

Pembuktiannya ada di film yang diberi judul agak terlalu simple, Jason Bourne. Kalau mengikuti seri Bourne, pasti sudah tahu bahwa Jason Bourne bukan nama asli si Jason Bourne (Matt Damon)--karena agen dark operation intel mana yang pakai nama asli =D. Itu adalah identitas yang dipakainya setelah di-"program" oleh CIA di bawah proyek Operation Treadstone untuk jadi tentara super--detailnya diungkap di Legacy, yang kayaknya juga jadi penyebab amnesianya di awal Identity. Anyway, beberapa tahun kemudian, nama Jason Bourne menjadi kata kunci yang menandakan bahaya bagi CIA, karena di ending Ultimatum Bourne sempat mengungkap kepada publik tentang operasi gelap CIA yang nggak beda sama pembunuh bayaran. Kini, ketika ada seorang hacker yang menerobos sistem CIA dan mencari segala informasi tentang Jason Bourne, CIA kembali kelabakan, apalagi bersamaan dengan itu tercuri pula data proyek rahasia CIA dengan perusahaan sistem operasi Deep Dream. Direktur Robert Dewey (Tommy Lee Jones) kemudian mengizinkan bawahannya, Heather Lee (Alicia Vikander) untuk melacak Bourne.

Bourne sendiri memang bersembunyi secara nomaden di berbagai negara. Dia sudah ingat segala jati dirinya, tapi sekarang memilih untuk stay low dan menggunakan kemampuan fisiknya untuk bertahan hidup: jadi petarung bayaran. Dia basically sudah menjauhkan diri dari dunia spionase. Nah, si hacker tadi sendiri tak lain adalah Nicky Parsons (Julia Stiles), mantan agen CIA yang dulu sih diisyaratkan pernah dekat dengan Bourne. Meski target awalny adalah membongkar kongkalikong CIA dan Deep Dream, Nicky merasa terpanggil agar Bourne melihat semua berkas soal Jason Bourne yang disimpan di CIA, karena apa yang dia ingat ternyata belum mencakup semua yang harus diketahuinya tentang hal-hal tercela yang dilakukan oleh organisasi intel AS itu terhadap dirinya. Persentuhan Nicky dengan Bourne ini kemudian membuat mereka terdeteksi lagi oleh CIA, yang pilihannya harus meringkus, atau melenyapkan mereka berdua.

So you see, ceritanya kayak ngulang aja gitu dari yang film-film sebelumnya, and that's kind of disappointing. Dan entah kenapa buat gw konsep "udah ingat semuanya bukan berarti tahu semuanya" tidak digali terlalu maksimal di sini. Mungkin karena misterinya sudah terungkap di film-film sebelumnya, film yang satu ini nggak memberikan nilai tambah, hanya melanjutkan saja. Intrik-intrik politik sengitnya pun nggak semenggigit Supremacy atau Ultimatum. Untungnya sih nggak berarti semuanya buruk, karena gw cukup suka bahwa film ini mengambil konteks masa kini--disinggung soal Snowden juga, ketika badan intel semacam CIA  nggak bisa se-rahasia dulu dalam menjalankan aksi-aksinya dan harus berusaha jadi lebih canggih dari "musuh-musuh" mereka, dan mereka harus lebih conscious soal citra publik, tapi teteup ada usaha untuk bisa memperluas cengkeramannya lewat deal rahasia dengan Deep Dream.

Namun, untuk urusan action, buat gw film Jason Bourne ini masih memenuhi ekspektasi. Beberapa adegan mungkin agak mengulang film-film sebelumnya dalam setting dan "kepadatan" berbeda, tapi ketegangannya dan kegilaan laga-tanpa-CGI-nya masih bikin gw girang. Mulai dari kejar-kejaran di tengah kerusuhan (!) di Yunani, kucing-kucingan di London, sampai showdown di Las Vegas yang akan bikin bengkel ketok magic setempat penuh. Ada sedikit sentuhan berbeda di film yang ini, dengan gambar-nya yang lebih cakepan dan tidak se-raw dulu, tetapi overall masih lebih terasa jiwa Bourne-nya daripada, well, Legacy misalnya. Tata suaranya itu lho kurang ajar banget bikin stress, haha. 

Buat gw, Jason Bourne ini termasuk alright, menghibur, cast-nya kelas serius, action-nya masih seru, cuma memang agak kurang memunculkan topik dan intrik yang lebih menarik daripada film-film pendahulunya--untuk hal ini bahkan Legacy masih lebih unggul. Tapi ya sudahlah, sudah cukup untuk jadi semacam exercise dan nostalgia Bourne versi Damon-Greengrass saat nggak amnesia lagi, walau memang nggak setara dengan trilogi Bourne yang awal. Gw sih nggak keberatan kalau mereka mau lanjut lagi, tapi mbok ya ceritanya bisa move on dari sekadar mencari identitas Bourne. Kalau mau stop, malah lebih nggak apa-apa.





My score: 7/10

Copyright © Video YouTube blogger.
Diberdayakan oleh Blogger.